Hari ini hari ke-4 meninggalnya seorang adik sepupuku. Kronologinya cukup tragis: kecelakaan sepeda motor. Namun disini aku tidak hendak bercerita tentang kronologi itu. ada sesuatu yang mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita yang masih hidup.
Sepupuku itu bernama Andi, sedang kuliah di semester I pada sebuah PT swasta di daerahku. Dia anak bungsu di keluarganya, orangnya cukup periang dan punya banyak kawan. Dia sangat sering bertandang dan kadang-kadang menginap di rumahku dan rumah sanak famili kami yang lain. Dalam hal ini dia sangat berbeda dengan saudaranya yang lain yang sangat jarang berkunjung ke rumah sanak famili. Sehingga pada hari meninggalnya itu, saat kami semua berkumpul di rumahnya, semua sanak famili kami mengenal Andi dengan dekat.
Ya, Andi sebenarnya memiliki sebuah jiwa yang cukup baik dan peduli. Namun mungkin lingkungan dan pergaulannya tidak memberikan kesempatan pada jiwa baiknya itu untuk muncul lebih sering. Di rumahnya, Andi sering menjadi pengacau dan biang masalah. Pada saat berselisih dengan ayahnya, dia akan pergi dari rumah dan menginap di salah satu rumah sanak famili. Dia akan bercerita (curhat) dengan mimik yang menunjukkan bahwa dia tidak butuh nasehat dari siapapun.
Perselisihan Andi dengan ayahnya sangat sering terjadi dan sering Andi lari ke rumah kami atau rumah nenek dengan luka bekas pukulan di tubuhnya. Sifat ayahnya yang keras sangat tidak sesuai dengan sifat Andi yang blak-blakan dan tidak bisa mengerem kata-kata. Disinilah kekurangan Andi pada orangtuanya: sering membantah dan mencaci.
Kematian Andi yang berdarah, cukup membuat ayahnya guncang. Laki-laki yang ketegarannya kian dimakan usia itu hanya terdiam dengan air mata terus bercucuran melihat Andi yang tak sadarkan diri hingga ajal menjemputnya.
Satu hal yang mungkin kurang diperhatikan orang pada saat penguburan, bahwa dari bagian mulut dan telinga andi terus mengeluarkan darah. Memang secara klinis hal itu mungkin karena pendarahan dari otaknya yang terbentur aspal. Namun aku yakin, Allah punya rahasia dibalik segala takdirnya yang menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertafakur.
Semoga Andi mendapat ampunan dan tempat mulia disana. Di usianya yang masih sangat belia tentu saja dosanya lebih sedikit dibandingkan kita yang sudah lebih lama hidup di dunia.
Wallahu a'lam..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
me in facebook
Articles of Mine
STAINMAL Lhokseumawe
catatan harian
this is me :)
jumlah kunjungan
Powered by Blogger.
0 komentar:
Post a Comment